Kalian tahu Lulu? Lulu adalah seekor anak monyet yang rajin. Lulu berumur delapan tahun. Dia bersekolah di Monkey School, kelas tiga.
Lulu punya kakak yang bernama Loli. Lulu biasa memanggil kakaknya dengan sebutan Kak Loli. Kak Loli berumur sepuluh tahun dan duduk di kelas lima, sekolahnya sama dengan Lulu, Monkey School.
Ibu Lulu biasa dipanggil Bu Kei. Ayah Lulu biasa dipanggil Pak Kei.
Suatu hari…
“Siapa yang setuju untuk berjalan-jalan sore ini?” tanya Pak Kei.
Bu Kei, Lulu, dan Kak Loli setuju. Akhirnya, ketika sore harinya, mereka pun bersiap-siap.
“Ayo Loli, Lulu!” seru Bu Kei.
“Iya, Bu,” jawab Kak Loli dan Lulu serempak.
“Kita mau pergi ke mana, Yah?” tanya Lulu.
“Kita akan pergi ke Monkey Market,” jawab Pak Kei.
“HOREEE! Monkey Market, aku dataaaang!” seru Lulu senang.
Monkey Market adalah pasar satu-satunya di Monkey Land (Dunia Monyet). Di Monkey Market, banyak sekali toko-toko kecil yang menjual bermacam-macam barang atau makanan.
Lulu, Kak Loli, Bu Kei, dan Pak Kei berjalan kaki menuju Monkey Market. Sesampainya di Monkey Market, Lulu tertarik dengan sebuah baju terusan berwarna merah jambu dan bergambar bunga-bunga yang dijual di sebuah toko kecil.
“Bu! Yah!” panggil Lulu.
“Kenapa?” tanya Pak Kei dan Bu Kei.
“Bolehkah Lulu membeli baju itu?” balas Lulu sambil menunjuk baju yang ia maksud.
“Boleh saja, tetapi jika terlalu mahal, sebaiknya tidak usah,” jawab Pak Kei.
“Kita lihat harganya dulu yuk,” ajak Lulu.
Mereka pun masuk ke toko kecil yang menjual baju terusan yang disukai Lulu. Pak Kei dan Bu Kei melihat harga baju terusan yang Lulu sukai. Ternyata, harganya empat puluh ribu.
“Harganya empat puluh ribu, tetapi Ibu dan Ayah hanya membawa uang tiga puluh lima ribu,” kata Bu Kei.
“Yah… berarti kita enggak bisa beli baju itu dong,” keluh Lulu.
“Iya, Lulu!” sahut Pak Kei.
“Sabar ya Lulu… Suatu saat, kita pasti bisa membeli baju yang kamu sukai itu,” hibur Kak Loli yang dari tadi diam saja.
“Baiklah, Kak. Enggak apa-apa, kok,” jawab Lulu.
Lalu mereka keluar dari toko itu dan mereka melihat-lihat toko yang lain. Ketika sudah malam, mereka pun pulang ke rumah.
Di rumah, Lulu masuk ke kamarnya.
“Bagaimana ya caranya agar aku bisa membeli baju tadi?” gumam Lulu. Lulu berpikir keras. Lima menit kemudian, Lulu mempunyai ide.
“AHA! Aku akan…”
Lulu keluar dari kamarnya. Lalu ia menghampiri Kak Loli, Bu Kei, dan Pak Kei yang sedang membaca majalah bersama di ruang keluarga.
“Bu, Yah, Kak Loli!” panggil Lulu.
“Iya, Lu? Kenapa?” sahut Bu Kei, Pak Kei, dan Kak Loli.
“Lulu punya ide,” kata Lulu.
“Ide? Ide untuk apa?” tanya Kak Loli.
“Ide untuk membeli baju yang Lulu sukai tadi,” jawab Lulu.
“Wah, apa idenya, Lu?” tanya Pak Kei dan Bu Kei penasaran.
“Ehm… apa, ya? Ada deh…! Pokoknya, lihat aja hari Senin…!” jawab Lulu, membuat Kak Loli, Bu Kei, dan Pak Kei jadi penasaran.
“Duh… Kakak penasaran nih, apa sih idenya? Tapi janji ya, beri tahu ketika hari Senin,” Kak Loli mengingatkan.
“Oke, deh!” seru Lulu.
Esok harinya, masih libur karena para guru di Monkey School sedang rapat. Lulu membuat kerajinan tangan berupa tempat alat tulis. Tempat alat tulisnya menggunakan stik es yang Lulu beli sebelum membuat kerajinan tangan ini.
Lulu membuat alas tempat alat tulis berupa beberapa stik es yang dirapatkan. Lalu, Lulu menempelkan dua buah stik es di ujung stik es-stik es sebelah kanan dan kiri. Kemudian Lulu menempelkan dua buah stik es lagi di ujung stik es sebelah kanan dan kiri. Ya, begitu seterusnya…
Lulu juga memberi hiasan berupa bunga-bunga dari sedotan yang diletakkan di pinggir stik es-stik es dan Lulu juga melukis stik es-stik es dengan beragam warna. Lulu membuat tempat alat tulis sebanyak sepuluh buah. Wah, banyak sekali ya? Tapi, Lulu membuat semua itu hanya dalam tiga jam! Cepat sekali, bukan? Oh ya, Lulu itu memang berbakat membuat kerajinan tangan, lho! Hebat ya?
“Hm, harganya berapa ya? Ah, lima ribu aja deh. Lagian, kan, tempat alat tulisnya enggak terlalu besar,” gumam Lulu.
Besoknya, Lulu masuk sekolah. Lulu juga membawa kesepuluh tempat alat tulis yang kemarin dia buat. Lulu menaruh seluruh tempat alat tulisnya di beberapa plastik.
TEEEET!!!
Bel barbaris berbunyi. Lulu segera pergi ke lapangan dan berbaris.
Ketika istirahat, Lulu menawarkan tempat alat tulis yang dibuatnya kepada teman-temannya.
“Kila, aku jual tempat alat tulis unik, lho!” seru Lulu.
“Oh ya? Bolehkah aku melihatnya?” tanya Kila.
“Tentu saja,” jawab Lulu.
Lulu memperlihatkan tempat alat tulis karyanya.
“WAH! BAGUS BANGET! Aku mau beli ya! Berapa harganya, Lu?’ tanya Kila sambil menatap tempat alat tulis karya Lulu dengan takjub.
“Harganya lima ribu satu,” jawab Lulu.
“Oh, aku beli satu ya, ini uangnya!” Kila memberikan selembar uang lima ribu kepada Lulu.
“Terima kasih ya, Kila,” ucap Lulu senang.
“Iya,” balas Kila. Kila pun pergi ke luar kelas dan menemui teman-temannya yang lain. Lulu melihat Kila sedang membicarakan sesuatu kepada teman-temannya. Tetapi, Lulu tidak tahu apa yang sedang Kila bicarakan.
Kemudian, Kila dan ketiga temannya yaitu Putri, Yati, dan Dita masuk ke dalam kelas, lalu mereka menemui Lulu.
“Halo, Lulu!” sapa Dita.
“Hai!” balas Lulu.
“Lulu, aku mau beli tempat alat tulis karya kamu dong!” seru Putri, Yati, dan Dita.
“Oh, baiklah….”
“Berapa satu?” tanya Putri dan Yati bersamaan.
“Satunya lima ribu,” jawab Lulu.
Putri, Yati, dan Dita membeli tempat alat tulis karya Lulu. Putri membeli satu, Yati membeli dua, dan Dita membeli satu. Jadi, yang dibeli ada empat, dan harga keempatnya adalah dua puluh ribu.
“Terima kasih ya Lulu!!!” seru Putri, Yati, dan Dita.
“Iya, sama-sama,” jawab Lulu sambil tersenyum.
“Oh, ya… kami main dulu ya,” pamit Yati. “Dah!”
“Dah….!” balas Lulu.
Lulu duduk di bangkunya. Dia memikirkan sesuatu. Semoga saja tempat alat tulis karyaku yang sederhana ini bisa laris terjual, harap Lulu dalam hati.
“Eh, hai, Lulu! Lagi ngapain?” tegur Asya.
“Aku lagi menjual tempat alat tulis, nih,” jawab Lulu.
“Wow! Bagus banget tempat alat tulisnya! Kamu beli dimana, Lulu?” tanya Asya.
“Aku enggak beli kok, aku membuatnya sendiri,” kata Lulu.
“Wah, hebat! Kamu memang berbakat deh Lulu!” puji Asya.
“Hehehe… Terima kasih ya, oh ya… kamu mau beli tempat alat tulisnya?” tawar Lulu.
“Tentu saja!” sahut Asya. “Satunya berapa?” tanya Asya.
“Lima ribu.”
“Oke, aku beli… dua!” seru Asya. “Nih uangnya. Sepuluh ribu, kan?” lanjut Asya seraya menyodorkan selembar uang sepuluh ribu kepada Lulu.
“Iya, sepuluh ribu. Ehm… terima kasih ya Asya,” ucap Lulu.
“Iya, sama-sama. Eh, aku mau ke kantin dulu ya, daaaah…,” lambai Asya. Lulu membalasnya dengan lambaian.
“Wow, sudah tujuh tempat alat tulisku yang terjual!” gumam Lulu. “Uangku berapa ya? Lima ribu… Sepuluh ribu… Lima belas ribu, dua puluh ribu, dua puluh lima ribu, tiga puluh ribu, tiga puluh lima ribu…!” Lulu menghitung uangnya. “Hm, sudah tiga puluh lima ribu. Wah, cukup banyak nih!”.
Lulu melihat Icha dan Nadya masuk ke kelas.
“Hai Icha, Nadya!” sapa Lulu.
“Eh, hai Lulu!” balas Nadya dan Icha.
“Kamu lagi ngapain, Lulu?” tanya Icha.
“Ehm… aku lagi jualan nih,” jawab Lulu.
“Jualan? Jualan apaan?” tanya Nadya.
“Jualan tempat alat tulis,” ujar Lulu. “Mau beli?” tawar Lulu.
“Mau, dong. Tapi, aku mau lihat tempat alat tulisnya dulu.”
Lulu memperlihatkan tempat alat tulisnya kepada Nadya dan Icha. Ketika Nadya dan Icha melihat tempat alat tulis Lulu, mereka tampak kagum.
“Wah, bagus banget, Lulu! Kamu beli dimana sih? Kalau bisa, aku juga mau beli di tempat kamu membeli tempat alat tulis ini,” kata Nadya.
“Aku bikin sendiri, bukan membeli…,” ucap Lulu.
“Oh, hebat banget! Aku mau beli nih, harga satunya berapa?” tanya Icha.
“Lima ribu,” jawab Lulu.
“Aku beli dua,” ujar Icha. Lulu memberikan dua tempat alat tulisnya kepada Icha. Icha menyerahkan dua lembar uang lima ribuan.
“Aku beli satu,” kata Nadya. Nadya membayar tempat alat tulis yang dibelinya.
“Terima kasih ya Icha, Nadya…!!” seru Lulu.
“Iya, sama-sama,” balas Icha dan Nadya. Lalu Icha dan Nadya pun bermain di dalam kelas.
Saat bel selesai istirahat berbunyi, tempat alat tulis karya Lulu yang dijual telah habis. Wah, ternyata laris banget, lho! Hari itu, Lulu sudah mendapatkan uang sejumlah lima puluh ribu! Wow, uang yang dihasilkan Lulu ternyata sudah melebihi harga baju terusan di Monkey Market. Tapi, Lulu masih ingin menjual karya-karyanya. Selama satu minggu ini, Lulu selalu menjual kerajinan tangan buatannya. Setiap hari dia membawa sepuluh buah kerajinan tangannya.
Ketika hari Senin, di rumah…
“Lulu! Apa sih ide kamu yang kamu bilang ketika hari Senin lalu?” tanya Kak Loli penasaran.
“Oh, Lulu menjual kerajinan tangan karya Lulu di kelas,” jawab Lulu.
“Wah, jadi itu toh!” seru Bu Kei.
“Udah dapet uang berapa?” tanya Pak Kei.
“Aduh, banyak nih,” kata Lulu. “Tiga ratus lima puluh ribu!!!”
“HAH?!?!” seru Bu Kei, Pak Kei, dan Kak Loli.
“Banyak banget, Lulu! Kamu hebat deh! Memangnya, satu kerajinan tanganmu itu harganya berapa?” tanya Bu Kei.
“Lima ribu,” jawab Lulu.
“Ohh…….”
“Tapi kok kamu bisa sih dapet uang sebanyak itu?” tanya Pak Kei.
“Lulu menjual kerajinan tangan Lulu selama satu minggu. Setiap hari Lulu membawa sepuluh buah kerajinan tangan dan setiap hari, Lulu selalu mendapatkan uang sejumlah lima puluh ribu. Jadi, karena Lulu menjual selama satu minggu, Lulu mendapatkan uang sejumlah tiga ratus lima puluh ribu,” jelas Lulu panjang lebar.
“Oh, gitu…. Ya udah, kami salut deh sama kamu!”.
Malam itu, Lulu pergi ke Monkey Market. Ternyata, baju yang disukainya minggu lalu sudah tidak ada lagi. Lulu sangat sedih.
“Sudahlah, Lulu. Kamu bisa kok membeli baju yang lain,” hibur Pak Kei.
“Baiklah. Tapi Lulu bingung, baju yang mana yang akan Lulu beli,” jawab Lulu.
“Terserah kamu deh, kan kamu punya uang banyak,” kata Bu Kei.
“Iya, Lu,” tambah Kak Loli.
“Hmm, Lulu pilih dulu ya!” seru Lulu.
“Iya.” Lulu pun melihat-lihat baju-baju yang ada di toko.
“Wah, baju ini bagus sekali!” seru Lulu ketika melihat sebuah baju yang indah.
“Kamu mau membeli baju ini, Lulu?” tanya Bu Kei.
“Iya! Lulu mau membeli baju ini saja! Tidak apa-apa yang minggu lalu itu sudah tidak ada! Tapi, sekarang Lulu ingin membeli baju ini!!!” jawab Lulu senang.
“Baiklah, kamu bayar sendiri ya, kan kamu punya uang sendiri.”
“Iya dong!”
Lulu pun membayar baju pilihannya di kasir. Lulu sangat senang karena bisa membali baju baru!
Penulis adalah Dita Indah Syaharani, siswa kelas VI SDIT Nurul Ilmi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar