Tapi mall tempat jual baju dan banyak lagi lainnya. Kami sekeluarga pergi membeli baju setelah sholat dhuhur, dengan naik motor. Siang itu terasa sangat panas, karena matahari sangat terik sekali dan silau sekali. Dan dalam perjalanan aku melihat kendaran yang berlalu lalang dan melihat banyak pemandangan. Dan saat itu mataku tertuju pada salah satu bangunan, yaitu SD, namanya SD 45 kota Jambi. Aku lihat halamannya bersih sekali, meski tidak terlalu luas. Dan di samping kirinya da kuburan lho…hi serem. SD dan kuburan itu hanya dibatasi pagar.
Setelah itu, aku lewat jembatan Makalam. Hemm…tahu kan, jembatan Makalam?. Dan setelah beberapa menit berjalan, akhirnya sampai juga di Mall, kemudian kami memarkir motor. He..he..aku merasakan dingin sekali ketika masuk ke Mall. Aku melihat ada banyak sekali yang dijual, seperti jam, parfum, perhiasan, jilbab, tas, peci dan bahkan berbagai permainan.
Di depan took jilbab, ada escalator, kemudian kami naik ke lantai 2, dan aku lihat banyak sekali aneka baju. Dengan tak sabar, aku melihat-lihat baju, tapi yang aku cari tak kunjung ketemu, yaitu baju kaos. Sedangkan Ibuku mencoba memilih baju untuk adikku, tapi ketika akan dibeli, adikku tidak suka, kerena gambarnya tidak sesuai dengan selera adik.
“Aku mau yang gambar robot,” kata adikku. Setelah lama memilih, akhirnya ketemu juga, dan adikku di belikan 3 baju, dengan gambar yang berbeda, yakni burung elang, mobil, dan robot tentunya. Begitupun aku, akhirnya aku juga menemukan baju, tapi bukan kaos, seperti yang aku cari, namu baju gaun. Gaun itu harganya 100 ribu. Namun, aku batal membelinya, karena ketika aku coba, ternyata agak sempit dengan ukuran badan aku, dan akupun mencoba cari baju lain, yaitu baju muslim. Namun setelah lama berkeliling, tapi belum ada yang cocok dengan hatiku.
Kemudian aku pindah ke took baju lainnya, dan setelah sampai, aku langsung memilih baju muslim yang kuinginkan. “Bajunya bagus-bagus,” gumamku. Tak begitu lama, akupun memilih satu baju muslim, yang aku sukai. Usai membeli baju, akupun tidak langsung pulang ke rumah, tapi aku mampir dulu ke toko kue untuk membeli kue lebaran. Usai dari toko kue, barulah aku pulang, dan sampai di rumah aku langsung mandi dan sholat Ashar.
Setelah istirahat beberapa waktu, akhirnya waktu Magrib tiba, dan takbir dari seluruh penjuru berkumandang. Hemm….malam yang indah.
Esoknya…… Wah, pagi ini terasa sangat indah sekali, aku memakai baju baru. Di hari Idul Fitri ini. Oh…senangnya hatiku. Buru-buru aku mandi, meskipun airnya sangat dingin, tapi aku paksakan.
Usai mandi, aku mempersiapkan mukena dan aku sempatkan minum the dulu sebelum pergi ke langgar. Kami sekelurga tidak pergi bersama ke langgar. Bapak lebih dulu pergi, kemudian aku dan adikku, setelah itu baru Ibuku menyusul. Usai sholat id, kami langsung pulang ke rumah dan salam-salaman dengan keluargaku, kemudian makan sama-sama. Idul fitri ini, ada yang istimewa, karena, kakekku ternyata berulang tahun, pas bertepatan hari raya Idul Fitri. Selain itu, keluargaku juga berkumpul semua. “Saatnya bagi THR” teriak Bu de. Akupun langsung lari mengambil barisan pertama. “Yuhui…dapat THR,” kataku.
Usai seluruh keluarga berkumpul, kemudian kami berencana ke rumah Buyut. “Setelah Ashar saja ya, biar nggak panas,” kata Ibuku.
Akhirnya, sesudah ashar kami pergi ke rumah Buyut, dan aku sekeluarga rupanya yang paling duluan datang, kemudian di susul yang lainnya. Banyak sekali yang datang, termasuk Quensa, yaitu cucu sepupu aku. Quensa masih Balita.
“Eh kok jalannya jinjit, biasa jadi penari balet nih,” kata Ibuku. Kemudian kami saling bercengkrama, karena tidak semua bisa bertemu di hari biasa. Aku dan Quensa asyik main hand phone, milik kakakku, yaitu kak Wiwik. Setelah lama, ngobrol di rumah Buyut, kemudian kami lanjutkan silaturrahmi ke rumah Pak de Supreh. Sampai di sana kami disambut dengan hangat, dan kamipun disuguhin pempek dan aneka kue lainnya. Kami pun bercerita banyak, dan saking asyiknya bercerita, tak terasa waktu ternyata sudah malam, yaitu jam 9.00 WIB. Kami pun bergegas pulang, takut terlalu malam.
Esoknya……….
Aku hari ini mau keliling komplek. Pertama aku ke rumah neneknya Dika. Dika merupakan teman. Di rumah nenek Dika, aku disuguhin banyak kue. “Ayo dimakan kuenya,” kata nenek Dika.
Waktu itu akan ambil kue Peyek. Akupun dengan asyik makan kue tersebut, namun, aku terkejut ketika aku tergigit sesuatu yang keras.Oh…ternyata gigi gerahamku tangga. Memang, sebelumnya gigi gerahamku sudah goyang, tapi belum aku cabut. Setelah beberapa waktu di rumah nenek Dika, kemudian aku ke rumah om Dahlan, di susul rumah Bangun, rumah Imel, rumah Iqbal dan terakhir rumah Mak wo.
Usai keliling komplek, akupun pulang, dan rasanya perutku masih agak lapar, meski tadi telah makan banyak kue. Kebetulan, di rumah ada ketupat dengan sayur opor ayam. Hemm, enak sekali rasanya. Tapi, lagi-lagi pas akau makan, gigi gerahamku yang satu tanggal lagi.
Esoknya………….
Hari ini, kami akan berkunjung ke rumah Umi Melita.
Umi Melita merupakan teman kerja Bapak. Umi Melita memiliki dua anak, namanya Kak Alya yang saat ini duduk di kelas 6 SD dan satunya lagi kak Kevin, yang sekarang kelas 1 SMA.
Setelah dari rumah Umi Melita, kami pergi jalan-jalan ke jembatan Batanghari II, yang kebetulan waktu itu ramai sekali, bahkan tempatnya sempat macet.
Usai dari jembatan Batanghari II, kemudian kami pergi ke Mall untuk beli Pianika, yang sudah lama ingin miliki. “Wah asyik…akhirnya dapat juga,” gumamku. Setelah dari Mall, kemudian kami langsung pulang dan langsung istirahat. Itulah cerita singkatku pada Idul Fitri lalu, cukup sekian, karena Ibuku harus jualan nasi gemuk lagi.
Pengarang adalah siswi Kelas 5 SDN 131dan aktif di sanggar menulis Evergreen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar